Kamis, 03 Januari 2019

MENGESANKAN


MENGESANKAN
(Tentang Sebuah Rahasia)
**


BAB I
AL. Sadei
Gedung Gramedia dipenuhi pengunjung karena ada jumpa penulis novel remaja di sana yaitu, AL. Sadei. Seorang wanita usia dua puluh tujuh tahun sedang dikerubuti oleh para penggemar novelnya, agar novel yang mereka beli ditandatangi oleh penulis kesayangan mereka. Setelah acara bedah buku sekalian peluncuran perdana novel terbaru dengan judul ‘Rahasia Hati’ yang diterbitkan sebanyak 10.000 eksemplar untuk seluruh Indonesia.
Tidak kurang dari dua jam acara itu berlangsung, AL. Sadei hanya ditemani oleh pihak penerbit yang tadi memberikan sedikit mukadimah tentang karya ke tujuh  yang ditulis AL. Sadei yang mereka terbitkan. Sebelumnya AL. Sadei telah mengatakan kepada pengunjung bahwa novel itu ia tulis dalam waktu dua bulan saja. Bagi penulis senior mungkin bisa dibilang terlalu lama, tapi bagi AL. Sadei menulis novel itu termasuk singkat karena ia bisa menulis novel dalam waktu tiga bulan bahkan lebih, ada juga bisa selesai dalam satu bulan untuk ukuran 150-200 halaman. Tapi novel AL. Sadei bisa sampai empat bahkan tujuh kali cetak ulang, namun sering juga hanya satu kali cetak dalam satu judul.
Beberapa pengunjung mendapat hadiah novel karena berhasil menjawab beberapa pertanyaan yang disediakan oleh panitia dari toko dan juga tanda tangan  dari AL. Sadei sekaligus foto bersama. Sebelum bubar AL. Sadei bicara kepada pimpinan redaksi  penerbitnya seolah candaan saja.
“Mitha, dalam beberapa minggu ke depan aku ingin istirahat dulu.”
Wanita yang bernama Mitha itu melirik AL. Sadei dengan mimik lucu. “Kenapa, mau semedi cari ilham? Hehehe… kamu ini ada-ada saja.”
“Ngapain cari ilham, ilham sih tidak usah dicari kalau sudah datang ia akan datang sendiri seperti tamu tanpa diundang. Ya sudah, aku mau pulang, kamu cepat sana… pacarmu sudah menunggu tuh.” Goda AL. Sadei.
AL. Sadei telah menyelesaikan sesi acara itu kini ia akan kembali ke tempat kosnya di kawasan Cinere. Dari lantai tiga gedung Gramedia AL. Sadei sudah mengenakan kacamatanya lalu turun melewati  lantai yang menjual berbagai merek  pakaian terkenal sebab toko Gramedia ada di dalam sebuah Mall besar. Beberapa wartawan On-Line sudah menulis apa yang AL. Sadei bicarakan di acara tadi, dalam hitungan menit artikel mereka akan muncul di dunia maya khusus untuk para manusia yang mencari berita di dunia yang saat ini sudah melaju dengan pesat, dulu beberapa orang memandangnya sebagai dunia sesat.
Wanita dengan celana jins sekaligus kaus lengan panjang itu sudah memasuki area parkir motor yang ada di lantai satu. Sejenak ia mengecek ponsel yang ada dikantong celana jinsnya tanpa mengeluarkan dari dalam kantong hanya untuk memastikan ponselnya masih ada. Ia mengenakan jaket kulit dan terakhir memasang helmnya tanpa bisa menutupi rambut panjang yang ia ikat seperti ekor kuda.
Melewati petugas parkir ia masih terlihat tenang dan merasa lega karena acara bedah bukunya berjalan dengan lancar. Setelah melewati halaman gedung Mall ia merasa ada sesuatu menyapanya, rasa rindu pada seseorang. Motor matic yang membawa tubuh semampai itu terlihat berjalan dengan stabil dengan kecepatan biasa namun rasa kangennya seperti  meluncur pada kecepatan diatas  seratus meter perjam. AL. Sadei menarik napas beberapa kali, rasa benci dan kangen sepertinya sedang berperang hebat di dalam dadanya. Tas ransel tipis menempel di punggung meski isinya hanya sebuah laptop dan beberapa surat seakan tidak terasa berat. Sebuah motor besar tiba-tiba lewat di depan AL. Sadei dengan kecepatan tinggi untuk buru-buru berbelok ke sebuah gang yang ada di kiri motor AL. Sadei, dan saat itu lampu sign belakang motor besar itu menyentuh ban depan motor AL. Sadei bersamaan dengan bergetarnya ponsel di dalam kantong celananya karena ada SMS masuk. Motor matic itu terlempar tanpa bisa dikendalikan oleh pemiliknya sedang yang punya motor besar itu sudah melesat meninggalkan korbannya tanpa ada satupun yang bisa melihatnya dengan jelas. AL. Sadei jatuh sedang kepala yang terbungkus helm membentur pembatas jalan dengan sangat keras. Beberapa orang berhenti melihat kecelakaan itu dan sebuah mobil pik-up yang ada dibelakang kerumunan orang menjadi sasaran untuk membawa AL. Sadei ke rumah sakit terdekat. Sebelum diangkat ke atas pik-up orang-orang melepaskan helm yang masih membungkus kepala wanita malang itu, tidak ada darah atau luka yang terlihat tapi wanita itu sama sekali tidak sadarkan diri. Dua orang pria mengangkat tubuh AL. Sadei ke atas pik-up dan sekaligus ikut mengantar ke rumah sakit.
Al.Sadei langsung dibawa ke ruang UGD, pihak rumah sakit mempertanyakan siapa yang bertanggung jawab dan salah satu dari mereka menjelaskan untuk segera ditangani dulu sebelum wanita itu meninggal. Ia mengatakan bahwa wanita itu mengalami kecelakaan tertabrak di jalan takutnya akan mengalami gegar otak dan meninggal. Mendengar kronologi itu seorang dokter tidak menunggu lagi dan segera memerintahkan temannya untuk melaksanakan CT-scan. Tanpa memikirkan siapa nanti yang membayar pengobatannya. Hal, semacam itu seringkali dialami pihak rumah sakit dan tak jarang dokter yang mengiyakan kena SP dari pimpinan rumah sakit dan hal terburuknya bisa dipecat atau menanggung segala biaya si pasien.


@
Best Friend
Pihak rumah sakit tidak tahu harus menghubungi siapa untuk menjaga pasien yang baru saja mereka rawat dan periksa. Pasien itu mengalami gegar otak dan pergelangan kaki kirinya patah, sedang kedua pria yang mengantarnya ke rumah sakit sudah pulang setelah mengatakan mereka hanya mengantar saja bukan dari pihak keluarga wanita itu. Pasien yang masih tidak sadarkan diri itu ditempatkan di ruang intensive. Dokter yang menanganinya melihat ada ponsel di kantong jins sebelah kiri pasien, tanpa berpikir panjang ia mengeluarkannya karena yakin ada petunjuk di sana, meski mereka sudah memeriksa isi tas pasien tapi mereka tidak menemukan petunjuk yang bisa dihubungi dengan cepat. Jam di dinding putih ruangan intensive menunjukkan pukul 15.07 WIB.
Dokter itu sudah memegang ponsel dan mengamatinya sejenak lalu melirik suster yang masih berdiri bingung di sebelahnya.
“Pasti ada sesuatu di sini.” Ujar sang dokter dengan nada pasti.
“Coba cek nomor kontaknya, Dok, cari nama penting seperti ‘ayah, ibu atau kakak’ dari pasien.” Usul  suster.
“Remaja sekarang jarang menulis nama seperti itu.” Kata dokter itu sambil berusaha membuka ponsel itu dengan hati-hati. Beruntung ponsel itu tidak memakai kata sandi. Dan pertama yang terlihat adalah pesan masuk dari nama yang tertulis ‘Best Friend’
‘AemeL……’
Dokter itu tiba-tiba tersenyum. “Pesan kok hanya satu kata.” Lirihnya lalu ia menatap pasien yang masih tidak sadarkan diri bahkan bisa dibilang koma. “Pesan ini dikirim oleh best friend-nya, aku harus menghubunginya.” Dokter memencet nomor itu tanpa menunggu reaksi dari susternya.
Julia sedang menatap layar ponselnya menyala memunculkan nama AemeL, sudah lama sekali nama itu tidak nongol di LCD itu sehingga menimbulkan rasa deg-degan yang tidak keruan di hatinya. Setelah membiarkannya beberapa detik akhirnya Julia memutuskan untuk mengangkat dan rasa kagetnya bertambah setelah mendengar suara seorang pria.
“Halo……….?”
“Ya. Halo..” jawab Julia dengan nada ragu-ragu.
“Maaf, siapapun nama Anda saya tidak peduli.. tapi ini sangat penting, saya baru saja membuka ponsel seorang wanita ternyata ada SMS Anda masuk dan bertuliskan dengan nama best friend, makanya saya menghubungi Anda. Kami, dan khususnya saya telah membongkar tas pasien namun tidak satupun menemukan yang bisa dihubungi selain di dompet ada SIM dan KTP atas nama Aemel Baes. Wanita itu sekarang sedang berada di rumah sakit karena kecelakaan tabrak lari.”
“Apa?” suara Julia tercekat tidak percaya sekaligus cemas.
“Ini tidak main-main, kami di rumah sakit Harapan Indah menunggu kedatangan Anda secepatnya.” Tegasnya dengan pasti.
“Baik, saya segera ke sana.” Jawab Julia dengan sangat cepat tanpa berpikir lagi apakah telepon itu sebuah penipuan atau tidak mendengar nama AemeL membuatnya tidak bisa berpikir lagi.
Tadinya ia berpikir tidak tahu harus bicara apa saat AemeL meneleponnya dan apa yang AemeL katakan,  karena ia sudah rindu sekali dengan suara itu namun kabar yang ia terima diluar ekspektasinya.
Pihak rumah sakit mencatat nama pasien sesuai nama yang mereka lihat di kartu identitas sekaligus menulis semua hasil lab serta sebab musabab kenapa wanita itu sampai ke rumah sakit.

@
Julia Collection
Julia sedang sibuk membantu rekan kerjanya, wanita single 27 Tahun itu punya dua cabang toko pakaian di pasar dengan sewa satu  ruko lebih kurang dua puluh dua juta pertahun. Ia menjalani bisnis itu dalam lima tahun belakangan, sebelumnya bekerja di sebuah butik milik seorang pejabat daerah. Ada dua orang pegawai di setiap satu toko, sedang Julia sendiri sering bolak-balik Jakarta-Palembang untuk membeli isi tokonya belum lagi harus melayani penjualan secara On-Line.
Hari itu setelah kembali dari toko yang satu tiba-tiba Julia ingat dengan sahabatnya. Wanita itu tersenyum karena sebenarnya bukan hari itu saja ia ingat dengan AemeL bahkan nyaris setiap hari tapi hari itu ia bukan saja ingat tapi ada rasa kangen yang sepertinya tidak biasa. Julia menghela napas berat seolah ingin meringankan beban rasa tiba-tiba menyesakkan dada, ia tidak pernah lagi menelepon AemeL karena percuma sebab wanita itu tidak akan pernah mengangkat telepon darinya, sekali-kali ia mengirim pesan jika ada hal penting sekali dan itu jarang sekali dapat balasan, andaipun ada balasan tidak penting untuk dibalas karena pesannya tidak minta dikonfirmasi. Tapi rasa itu akan perlahan menghilang seiring kesibukannya  membantu anak buahnya melayani pembeli yang jarang sepi di tokonya. Sebuah ponsel selalu menemaninya untuk bisnis On-Line yang ia jalani dua tahun belakangan.
“Kak, ini ada WA dari pelanggan. Katanya kiriman sudah sampai, barang yang datang juga sama persis dengan yang ia pesan.” Pegawai sekitar usia dua puluh tiga tahun itu bicara pada Julia disambut Julia dengan senyuman artinya pelanggannnya puas dengan pelayanan mereka. Ruko yang tidak lebih besar dari lima kali lima meter itu berisi barang dengan mutu bagus meski tidak terlalu memenuhi ruangan sehingga Julia bisa meletakkan sebuah meja dengan dua kursi kecil di pojok bagian belakang ditambah sebuah kipas angin kecil. Sebuah laptop ukuran 11 inch sedang terbuka di atas meja, sekali-kali Julia asik menyimak layarnya untuk melihat perkembangan bisnis di dunia internet. Ia sendiri telah mendaftarkan akun Julia Collection di sana.
Seema wanita yang sekaligus orang kepercayaan Julia mendekati bosnya. “Kak, biasanya sebulan sekali sudah harus belanja ke Jakarta tapi kali ini baru masuk minggu kedua toko ini sudah harus kembali diisi, apa kali ini pesan saja minta dipaketin seperti bulan kemarin?” ia bertanya karena isi toko sudah harus ditambah apalagi pesanam lewat On-Line makin lancar.
Julia melirik Seema lalu berkata “Aku akan ke Jakarta kalau pesan rasanya kurang puas untuk memilih.” Ia memastikan. “Oh, ya, Seema….” Julia berhenti bicara seakan sedang memikirkan sesuatu sedang wanita itu menunggu Julia meneruskan kata-katanya tapi Julia hanya menatapnya seolah lupa tadi ingin bicara apa. “Mungkin aku ke Jakarta dalam dua hari ini dan selama aku pergi kedua toko di Palembang ini adalah tanggung jawab kamu.” Katanya kemudian. Tanpa dijelaskan Seema sebenarnya sudah tahu tanggung jawabnya termasuk mengirimkan pesanan yang  lewat internet.
“Oke, siap..” Seema tersenyum tanda setuju.
“Seema, baju kemeja dewasa ini harganya berapa ya? Aku lupa?” rekan kerja Seema memperlihatkan sebuah kemeja lengan panjang karena ia sedang ditunggu dua orang sepertinya pasangan kekasih yang berminat dengan kemeja itu.
“Seratus lima puluh ribu, bisa kurang kok.” Sahut Seema setelah melihat jenis kemeja yang diperlihatkan temannya dan kalaupun bisa kurang tidak lebih dari sepuluh ribu rupiah karena barang yang ada di toko Julia Collection sudah dikenal bermutu bagus jadi tidak ada yang berani menawar rendah. Julia hanya mengamati mereka dari belakang mejanya lalu kembali mengecek kiriman yang sudah terkirim di internet. Jasa pengiriman tak jarang mengecewakan yang seharusnya sampai dalam waktu tiga atau empat hari malah dua minggu baru sampai dan membuat si pengirim dan pemesan jadi sangat kecewa dan anehnya tidak ada jaminan ganti rugi, yang ada si punya barang harus mengirim ulang. Itulah dunia bisnis tidak selalu manis.
Setelah berkutat beberapa menit di dunia internet Julia meraih ponsel dan membukanya, tidak ada status WA sahabatnya yang satu itu kecuali nomor ponsel yang sudah ia simpan lebih dari tujuh tahun. Kembali ia menghela napas panjang karena teringat lagi dengan wanita satu itu.
Di bagian depan atas ruko ada tulisan besar berbunyi ‘Julia Collection’ itulah satu-satunya usaha yang Julia jalani sekarang yang bisa menghidupi dirinya sekaligus membayar empat orang karyawannya yang kesemua sudah ia anggap keluarga sendiri. Bukan itu saja, selain itu ia masih bisa sedikit-sedikit membantu keluarganya. Julia tidak memiliki rumah pribadi, ia tinggal di tempat kos dengan satu kamar. Meski ada beberapa kakaknya menawarkan untuk tinggal di rumah mereka tapi Julia memilih untuk tinggal sendiri dibanding tinggal di rumah kakaknya yang kaya, punya pembantu dan segala macam. Julia tidak suka mendengar gosip, tidak suka ikut arisan keluarga juga tidak suka pergi-pergi yang tidak jelas. Ia punya banyak teman dari berbagai kalangan, tua ataupun muda, pegawai bahkan kaki lima tapi kini ia hanya dekat dengan wanita yang satu itu, wanita yang selama beberapa bulan ini mengganggu pikirannya. Wanita yang ia anggap lebih dari keluarga sendiri, tidak ada lagi rahasia yang ia simpan dari wanita itu. Semua sudah ia buka dengan sangat jelas, ibarat sebuah buku tidak ada satupun halaman yang wanita itu lewati mengenai kisah hidupnya. Tapi sekarang wanita itu sedang apa? Bagaimana perasaannya Julia tidak tahu. Ia sungguh penasaran.
Tak jarang Julia meneteskan airmata mengingat persahabatan mereka yang tidak biasa. Julia merasa takut kehilangan lantaran sudah banyak kehilangan di dalam hidupnya apakah harus terpisah darinya sampai mati, rasanya tidak ada yang lebih sakit dari tidak tahu kabar seorang sahabat yang sangat disayangi.
Hujan mulai turun dan dalam hitungan detik saja sudah sangat deras, orang-orang yang berniat belanja jadi kalang kabut mencari tempat berteduh tak terkecuali di depan teras Julia Collection. Julia merasa hatinya beku dan saat itulah ia ingin menuliskan pesan.
*
Tepat pukul 20.47 WIB Julia tiba di rumah sakit tempat AemeL Baes dirawat, setelah turun dari taksi ia langsung menuju ruang informasi menanyakan apakah benar AemeL Baes berada di tempat itu. Dengan tas punggung yang ditenteng, rambut semi bob ala polwan, baju kaus serta celana jins dan tanpa polesan Make-Up ia coba bertanya.
“Maaf, Sus, saya ingin tanya, apakah ada pasien yang bernama AemeL Baes dirawat di sini?” katanya pada wanita berseragam perawat, disebelahnya ada dua orang lagi dan yang satunya seorang pria sedang melihat-lihat daftar pasien. Perawat yang ditanya mengangkat wajahnya untuk menatap Julia sedangkan seorang pria dengan pakaian dokter menatap Julia dengan tatapan campur aduk.
“Saya cek dulu.” Sahut perawat akhirnya dan langsung mengecek papan daftar pasien yang ada di sebelahnya. Wanita yang menunggu begitu cemas jelas terlihat dari ekspresi wajahnya.
“Anda, best friend??!” kata dokter sebelum suster menemukan nama yang ditanyakan sang tamu atau orang yang bermaksud besuk sanak saudaranya.
Julia mengalihkan pandangannya kepada orang tersebut dan sebelum pria itu terlalu jauh mengamati wajahnya Julia mengajukan pertanyaan.
“Anda mengenali saya?” katanya dengan nada rendah belum bisa menghilangkan rasa cemas.
“Ikuti saya…” kata sang dokter dan suster yang melihat mereka sepertinya menebak mereka sudah saling komunikasi lalu membiarkan wanita itu mengikuti perintah sang dokter, tak biasanya dokter mau mengantar orang ke pasien mungkin karena ia menangani pasien yang belum diketahui keluarganya.
Julia sudah berjalan bersisian dengan dokter muda itu dengan rasa was-was yang luar biasa.
“Hampir enam jam, mengapa Anda begitu lama datang? Sahabat macam apa Anda ini?” sergah sang dokter dengan nada tidak enak terdengar di telinga Julia. “Semacet-macet kota ini tidak mungkin menjebak Anda selama itu di jalanan.” Nadanya masih sama namun lebih mengandung amarah membuat Julia makin cemas.
“Bagaimana keadaan AemeL?” Julia ingin segera tahu kondisi sahabatnya tanpa mempedulikan ocehan sang dokter dan ia merasa tidak perlu menjelaskan apa yang telah ia lewati selama kurang lebih enam jam perjalanan sampai membawanya ke tempat yang sama sekali tidak ia harapkan.
Dokter itu menghentikan langkahnya diikuti oleh Julia, kedua orang itu saling tatap beberapa saat di lorong panjang teras rumah sakit.
“AemeL Baes masih tidak sadarkan diri hingga detik ini.” Kata dokter dengan nada tenang namun tidak demikian dengan Julia.
“Apa maksud Anda? Dia koma?”
Dokter tidak mengangguk juga tidak menggeleng kecuali diam karena baru kali ini ada orang menyebutnya ‘Anda’ bukan ‘dokter’ dan wanita yang kini ada di depannya terlihat punya karakter tidak biasa. “Ayo…” ia kembali mengajak Julia jalan. “Anda bukan saja kelihatan cemas tapi juga terlihat sangat lelah. “Aku tidak menyebut AemeL koma, hanya saja belum sadarkan diri. Ia mengalami tabrak lari.” Lanjutnya.
“Tabrak lari?”
“Ya, memangnya aneh? Ada ratusan kasus tabrak lari di ibukota ini setiap harinya.” Mereka sudah tiba di ruang rawat intensive. “Ini, AemeL ada di dalam, tunggu, biar saya panggil suster keluar dulu.” Dokter membuka pintu lalu mengisyaratkan agar suster jaga keluar. Saat keluar suster melirik sekilas pada Julia dengan tatapan penuh tanya.
“Apa dia si Best Friend, itu?” ujarnya membuat Julia bingung meski suster jaga berbicara dengan dokter.
“Sepertinya, ya, semoga saja ia benar-benar Best Friend sehingga kita tidak harus menunggunya selama enam jam.” Sindir dokter keras sengaja tertuju pada Julia.
“Maaf,.. “ Julia merasa mulai tidak sabar langsung membuka pintu dan menerobos masuk untuk segera melihat kondisi AemeL tanpa harus melayani dokter dan suster itu untuk berdebat. Namun di depan pintu bagian dalam ia tertegun takkala melihat sosok seorang wanita yang terbaring di tempat tidur pasien dengan kondisi memprihatinkan. Alat bantu pernapasan terpasang di hidungnya. Julia menutup mulutnya dengan telapak tangannya agar jeritannya tidak keluar, saat itu pundaknya disentuh oleh tangan dengan lembut seakan coba menguatkannya.
“Ia sudah menunggu kamu dari tadi, jika saja ia bisa berbicara maka ia sudah marah sama kamu. Sekarang kamu boleh mendekatinya dengan catatan tidak boleh berbuat macam-macam.” Sang dokter bicara karena merasa sudah yakin dialah Best Friend itu namun ia tidak mau pasiennya lebih parah.
Tas di bahu Julia sudah jatuh ke lantai kakinya mendekati AemeL sedangkan dokter masih mengamati sosok itu, di matanya wanita itu terlihat sangat ideal entah mengapa ia merasa akan menemukan banyak keunikan.
“AemeL…..” lirih Julia memanggil nama AemeL nyaris saja tidak bisa keluar dari  mulutnya namun yang dipanggil tetap diam membisu seolah sedang tidur dengan nyenyaknya tanpa menyadari sahabatnya datang dari luar kota telah berada disisinya. Julia semakin dekat dan dengan gemetar tangannya coba menyentuh pipi AemeL. “Bangun AemeL…….” Lagi-lagi suaranya terdengar lirih. Sang dokter masih tetap menyimak Julia tanpa bergerak dari tempatnya semula berdiri. Lalu beberapa detik berikutnya terdengar suara lembut dari mulut dokter yang sudah ada di sebelah Julia.
“Pergelangan kaki kirinya patah.”
“Apa..? Anda bilang kakinya patah?” Julia menoleh pada dokter dengan nada suara diluar kendalinya.
“Pelankan suaramu.” Anjur dokter.
Julia merasa tidak kuat hingga berbalik dan bermaksud meninggalkan ruangan itu namun buru-buru tangannya  diraih oleh dokter namun ia mendapatkan amarah dari Julia.
“Kenapa Anda menelepon saya jika hanya bermaksud menyampaikan berita seperti ini? Apa salah AemeL dan saya? Apa tidak ada orang lain yang bisa Anda hubungi? Katakan…..  Anda pikir saya bisa menghadapi kenyataan ini?” keluh Julia dengan mata berkaca-kaca.
“Ponsel AemeL mati, mungkin kehabisan batrey setelah saya menelepon kamu. Apa kamu pikir hanya dia pasien di rumah sakit ini perlu perhatian? Ribuan pasien di sini menunggu kesembuhan dan kehadiran orang-orang terdekatnya. Jika kamu merasa dia benar-benar sahabatmu, hubungi keluarganya dan temani dia di rumah sakit ini sebelum yang lain datang, oke..?! saya masih banyak urusan.” Kali ini kata-kata dokter itu berubah lebih kasar. Setelah berkata ia keluar dan meninggalkan ruangan AemeL dan Julia yang masih bingung, sedih dan tidak tahu harus bagaimana. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain kembali mendekati tempat AemeL dibaringkan.
Kali ini Julia benar-benar sudah menangis dihadapan AemeL yang masih tidak sadarkan diri. “AemeL…. Katakan apa yang harus aku lakukan?” gumannya sambil memegang tangan AemeL dengan erat. “Sudah beberapa bulan ini aku merindukan suaramu, bicaralah Ae…, aku tidak bisa menghadapimu seperti ini, apakah ini hukuman untukku? Bangun Ae…. Aku kangen.” Kini air mata Julia jatuh mengenai tangan AemeL namun sosok itu tetap tidak bergeming.
Sejenak dokter masih menatap Julia dari sisi luar pintu sebelum benar-benar pergi meninggalkan kedua wanita yang tidak ia kenal itu.
Julia tidak menghiraukan perutnya yang mulai berteriak minta diisi, sepanjang perjalanan dari Palembang naik pesawat pukul 17.27 WIB dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta pukul 18.37 WIB. Perjalanan dari Bandara sampai rumah sakit lebih kurang dua jam, dalam waktu nyaris enam jam ia sama sekali belum menyentuh makanan. Kini dipikirannya ingin AemeL segera siuman dan bicara padanya, harapan Julia memang terwujud AemeL sadar setelah pukul sepuluh malam. Melihat kenyataan itu Julia tersenyum meski tak bisa menyembunyikan rasa duka yang dalam melihat kondisi AemeL. Ia tidak peduli AemeL akan memarahinya, ia rela.
“Ae…..?” panggil Julia dengan nada penuh rasa haru.
“Mmm.. ka..mu...” Suara AemeL masih terbata-bata lalu dengan pelan ia melepas alat penutup hidungnya. “Kenapa saya di sini? Kamu…. Kamu siapa……..?”
“Apa………?” Julia langsung shock karena AemeL tidak mengenalinya. “Ya, Tuhan……..”
AemeL tidak peduli dengan rasa kaget di wajah Julia karena kepalanya masih terasa pusing dan ia kembali memejamkan matanya beberapa kali. Julia hanya bisa menatap AemeL dengan pikiran tidak menentu sekaligus sedih melebihi tadi.
*
“Benturan di kepalanya menyebabkan ia lupa ingatan hingga mengalami amnesia.” Jelas dokter yang merawat AemeL. Julia masih terdiam di depan meja dokter tanpa bisa bicara apa-apa. “Sebaiknya kamu hubungi keluarganya.”
“Kapan ia bisa keluar dari rumah sakit ini?”
“Untuk saat ini belum bisa dipastikan.” Sahut dokter .
“Saya akan kembali ke ruangannya.” Hanya itu yang keluar dari mulut Julia. AemeL terlihat tidur bukan pingsan lagi karena pengaruh obat. Itu kata dokter kepada Julia. Mengetahui AemeL mengalami amnesia Julia mematikan ponselnya. Ia memeriksa tas AemeL, sebuah laptop entah masih berfungsi dengan baik atau ikut retak seperti isi otak AemeL karena kecelakaan itu. Sebuah ponsel dalam kondisi mati dan dompet dengan isi uang tidak lebih dari lima ratus ribu rupiah dan dua kartu ATM. Kedua kartu itu Julia mengetahui PIN-nya dengan baik. Bukan itu saja, kata sandi Twitter, IG dan Facebook AemeL juga ia tahu karena dikasih tahu sama AemeL waktu hubungan mereka masih baik, apakah AemeL menggantinya atau tidak Julia tidak ingin mengetahuinya. Sekali lagi Julia menatap sahabatnya yang sekarang bukan saja sakit dan patah tungkai kaki kiri tapi mengalami lupa ingatan. Julia merasakan dadanya benar-benar sesak sehingga susah sekali bernapas.
Seorang suster masuk untuk memberikan obat diikuti seorang wanita yang bertugas menyediakan makan malam untuk pasien. Ia tidak peduli apakah nanti makanan itu akan dimakan atau tidak yang penting ia sudah menyediakan sesuai intruksi dari dokter yang merawat pasien.
“Selamat malam.” Sapa suster pada Julia yang duduk di samping AemeL. “Saya akan memeriksa Pasien, Anda keluarganya?” ia melirik ke Julia sejenak.
“Ya, silahkan.” Sahut Julia dingin.
“Oh, ya. Anda diminta menemui bagian administrasi.” Kata suster menyampaikan pesan dari bagian administrasi sembari mengecek kondisi AemeL.
“Tentu saja, tapi… apakah suster mau di sini sebentar saat saya keluar menemui bagian administrasi?” pinta Julia karena tidak ingin meninggalkan AemeL sendirian di ruangan itu.


~~~~~~

Bersambung......

Kotak Kosong


‘KOTAK KOSONG’

Entah apa yang telah terjadi dengan diriku, sungguh semuanya terasa sangat aneh bahkan aku merasa ini di luar kuasa dan kendaliku. Ada sesuatu yang seperti menyentak-nyentak kalbu bahkan secara terus menerus mengusik jiwa dan menguras pikiran serta waktu istiraratku. Apa ini? Bisakah aku menjawabnya? Ah, jangankan menjawab memahaminya saja aku bahkan tidak mampu.
Yang menjadi pertanyaanku apakah selama ini aku mengharapkan hal ini menimpaku? Sungguh, ini tidak sama sekali! Andaipun ada hal yang aku pikirkan selama ini bukan tentang itu. Tapi apa ini? Adakah orang lain khususnya wanita lain mengalaminya juga?
Sungguh luar biasa pesona itu sangat luar biasa, rasanya ingin sekali aku memaki dan menjerit sekuatnya tentang rasa yang ada saat itu dan anehnya aku mengira ia punya rasa yang sama, ah mana mungkin. Namun diluar dugaanku saat aku dan dia kala itu duduk di ruang tamu sedang menonton acara televisi ia tiba-tiba menegurku dengan sebuah permintaan.
“Boleh aku minta nomor teleponmu?”
“Untuk apa?” sahutku dengan segera padahal dalam hati aku sudah mengira ia akan melakukan itu.
“Ya, biar nanti aku bisa memantau kesehatan Mbah Kakung kalau aku sedang di luar kota.” Jawabnya dan menurutku cukup masuk akal namun tetap saja aku merasa itu sebagai alasannya namun begitu aku tetap memberikannya. Aneh.
Aku bekerja di sebuah rumah untuk mengurus seorang pria lansia, ia sakit struk ringan yang mengharuskannya duduk di sebuah kursi roda. Meski ia masih memiliki seorang istri yang kebetulan juga sudah tua dan tidak memungkinkannya untuk mengajak si Mbah Kakung jalan-jalan setiap pagi sekaligus terapi. Setelah beberapa hari bekerja ada seorang pria bersama putri kecilnya datang dari luar kota yang lumayan jauh, anaknya sudah duduk di bangku kelas 3 SD ternyata.
Dari Mbah, aku jadi tahu ternyata pria itu sudah ditinggal istrinya dari anak mereka kecil sekali dan yang mengurus putri kecil itu adalah ayahnya tanpa bantuan siapa pun dari hal terkecilpun. Sungguh luar biasa apalagi dia punya usaha sebuah rumah makan di kota tempat tinggalnya yang sekarang, pria itulah yang mengerjakan urusan masak-memasak sedang karyawan yang membantu hanya untuk urusan melayani pembeli saja. Bisa kubayangkan betapa pekerja kerasnya pria itu, pagi-pagi sudah bangun untuk menyiapkan segala urusan isi rumah makannya belum lagi harus mengantar anaknya sekolah. Sebagai seorang wanita siapa yang tidak terkagum-kagum dengan pria seperti itu, belum lagi penampilannya keren, pekerja keras, penyayang dan simpati. Aku ingat sosok seperti itulah yang menjadi impianku selama ini.
Entah terdorong oleh kondisi finasialku yang pas-pasan atau mungkin karena ada hal lain yang masih aku cari alasannya. Aku punya satu putra yang masih TK kecil sedang suamiku bekerja serabutan. Dari masih single aku memang pekerja meski tidak bisa dibilang kerja kantoran tapi intinya aku sudah terbiasa membantu keluarga dan otomatis selalu punya uang sendiri dan seandainya saat ini aku punya pasangan yang mungkin bisa memenuhi kebutuhan seorang wanita dalam arti yang tidak terlalu aneh mungkin tidak membuat rasa ini menjadi sedikit bimbang atau bisa dibilang sangat bimbang. Hmmm…
Untuk makan sehari-hari kami mungkin bisa tapi untuk yang lain tidak bahkan untuk membeli kebutuhan khsusus seorang wanita saja aku harus berusaha sendiri, tidak pernah aku berpikir untuk membeli hal yang berlebihan semisal alat Make-Up, ponsel atau baju yang mahal. Karena bagiku kebutuhan anak lebih penting sehingga mengabaikan underwear-ku sendiri. Tapi kenapa sejak bertemu dengan pria itu semua kebutuhan itu seakan menjadi lebih nyata sangat nyata.
Selama ini aku merasa yakin perasaanku utuh untuk pasanganku tapi setelah bertemu dia ‘Pria itu’ dan mendengar semua kisah dan perjuangannya ada perasaan yang kagum luar biasa, apakah hanya sebatas kagum? Entahlah. Dan setelah mendengar sendiri ia mengutarakan perasaanya saat itu, perasaanku makin tidak keruan.
“Dik, aku kok merasa nyaman dan tenang ngobrol dengan kamu. Coba ya, kita ditemukan saat kamu belum punya suami.” Ujarnya dengan nada seolah menyesali pertemuan itu padahal aku bisa merasakan ada bias kebahagian saat kami bisa berbincang di sela-sela kesibukanku mengurus Mbah Kakung dan anaknya si gadis kecil itu terlihat begitu manis, mandiri dan bisa aku rasakan anak itu juga menyukaiku. Bukan tanpa alasan karena gadis kecil itu pernah mengatakan ia mengidamkan seorang ibu seperti diriku. Merasa tersanjung juga saat itu.
“Tidak, Mas Biyan, jangan bicara seperti itu. Aku ini sudah punya suami dan bekerja di sini untuk keluargaku. Untuk urusan itu aku doakan Mas Biyan bisa menemukan seorang yang lebih pas untuk menjadi ibu dari putri Mas.” Sahutku mencoba menjadi seorang yang tidak boleh dianggap spesial padahal saat itu hatiku sedang berbunga begitu merekahnya seakan semua lagu-lagu indah dan melankolis sedang berkumandang di telingaku yang mampu menutupi kenyataan diriku yang sesungguhnya telah memiliki seorang putra kecil semata wayang dan seorang suami yang begitu setia dalam segala kekurangannya selama ini. Pun mertua yang begitu baik bukan saja pada diriku bahkan pada seluruh keluargaku yang selalu ringan tangan membantu apa pun yang berbentuk tenaga yang bisa mereka lakukan.
Semakin hari aku merasa ketidakberesan perasaanku sudah mulai mengganggu ketenangan hingga akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah itu walau susah sekali mencari alasan karena Mbah Kakung merasa sudah cocok dirawat olehku begitupun istrinya merasakan Mbah Kakung tidak akan pernah menolak atau cerewet kalau aku yang memintanya untuk selalu latihan jalan setiap pagi. Namun dengan alasan  yang pas karena saat itu ada tawaran untukku bekerja di sebuah restoran dekat rumah, karena sebelumnya aku pernah lama bekerja di restoran atau rumah makan di pinggir jalan menjadi juru masak yang sangat diandalkan membuatku kembali tertarik dengan bidang itu.
Setelah keluar dari rumah Mbah Kakung dilema baru aku hadapi, entah mengapa aku merasa ada yang hilang dari diriku, apa itu? Karena sebelumnya Biyan pernah mengatakan ingin sekali melihat aku bahagia di depan matanya, ia ingin membahagiakan aku dalam hal apapun hingga aku berpikiran apakah di matanya aku begitu menderitanya? Entahlah. Aku tidak pernah cerita tentang hidupku padanya selama ini selain mendengar ceritanya dan aku merasa ceritaku dengannya selalu saja bisa nyambung dalam hal pandangan hidup yang selama ini tidak aku dapatkan dari suamiku yang notabenenya adem ayem saja, tidak pernah cerita tentang tantangan hidup, sedangkan pria ini pandanganya sangat luas ke depan dan itu bukan seperti mimpi-mimpi indah hanya saja aku merasa ia punya wawasan yang begitu luas hingga bisa menyamai diriku, yang membuat aku merasa tertantang yang sekaligus merasa bahwa kami sangat sepaham dalam hal apapun. Entah mengapa akhir-akhir ini aku jadi sering membanding-bandingkan suamiku dengannya, itu bodoh sekali!
Aku tidak tahan lagi hingga akhirnya hal ini aku ceritakan pada adik perempuanku yang masih single. Tahu apa tanggapan yang aku dapat? Aku diomelin habis-habisan yang tadinya berharap respon bagus darinya atau setidaknya berkhayal ia mengatakan ‘Boleh tuh Mbak, orangnya keren, punya usaha tidak malu-maluin diajak ke undangan dan bla bla bla….’ atau segala macam yang ia punya sempat terlintas dibenakku ternyata tidak satupun aku dapat. Huh! Apa ini? Mungkin seharusnya aku bersyukur karena tidak mendapatkan apa yang seharusnya ingin aku dengar dengan begitu adikku punya sifat yang semua orang mungkin membanggakannya atau mengacungkan jempol untuknya. Karena saat itu ia mengatakan.
“Jangan Mbak, kasian Mas, suaminya Mbak karena keluarga suami Mbak bukan saja baik sama Mbak tapi juga baik sama kita-kita.”
“Jangan, dia bukan pria yang baik. Andai ia pria baik-baik maka ia tidak akan mendekati kamu padahal ia tahu sudah punya suami. Siapapun dia kalau ia pria sejati ia tidak akan mencoba masuk ke dalam hubungan kamu yang masih sah jadi istri orang.” Kata salah satu temanku yang berada jauh di luar kota saat aku ceritakan semua permasalahan yang sedang aku alami melalui telepon. Meski aku membantah karena Biyan adalah pria baik-baik sebab jelas sekali ia mengatakan tahu posisi aku dan dia dan ia pun mengatakan tidak ingin ini terjadi tapi apa hendak dikata, ia memang sangat mengharapakan aku. Aku sampai menangis karena merasa ada yang sesak di dadaku. Perasaan itu begitu kuat, ada debaran yang aku rasakan setiap saat apalagi setelah Biyan dan putrinya kembali ke kota tempat  ia buka usaha. Terlintas pikiran tidak warasku untuk mengikuti mereka dan mengurus mereka sampai Biyan menemukan pengganti istrinya apalagi aku merasa sangat pas di sana karena aku hobi masak. Jika ada orang yang tahu niatku maka mereka akan perkata satu kata, GILA!
Sepertinya aku memang sudah gila dengan perasaan ini karena tidak lagi memikirkan keluarga kecilku sehingga dengan naifnya berpikir akan mengurus mereka sedang aku sendiri punya sesuatu yang wajib aku urus. Memang secara profesional aku akan digaji karena menjadi karyawannya nanti dan pulang membawa uang dan bisa membeli apa yang aku inginkan. Huh! apakah di sini aku yang hilang akal atau dia?! Apakah ini cobaan? Rasanya sangat sulit untuk menghindar dan melawan perasaan itu. Sebelumnya temanku pernah bilang.
“Sudah jangan menangis lagi, nikmati saja perasaan itu dan biarkan ia mengalir hingga habis tak tersisa karena bagaimanapun kamu tidak akan sanggup melawannya. Yang namanya perasaan sesaat itu memang menggebu-gebu dan setelah kamu sadari bahwa semuanya hanya kotak kosong yang tak bermakna. Kita masih punya perasaan dan itu manusiawi tidak perlu dilawan. Menangislah dan dengan begitu bukan saja perasaan itu yang besar karena sebagai wanita kita tidak akan bisa menghilangkan rasa dan tanggung jawab kita sebagai istri dan ibu, menangis karena kita masih sangat kuat mencintai keluarga kita yang sesungguhnya.”
Air mataku semakin deras mengalir meski telepon genggam masih menempel di telingaku, aku masih saja memberontak dengan apa yang aku alami. Aku membenci perasaanku yang sangat besar pada Biyan karena setiap saat ia mengirimkan aku pesan dan meneleponku di waktu luangnya dan sekali-kali memuji kerja kerasku untuk membantu keluarga.
“Aku tidak menyukai perasaan ini tapi aku tidak mau kehilangan dia.” Sahutku di antara derai air mataku saat aku menelepon sahabatku di luar kota waktu istirahat siang di pojok ruangan dapur restoran.
“Ya, aku mengerti.. mengerti sekali dengan apa yang kamu rasakan saat ini tapi kamu harus percaya bahwa yang kamu rasakan sekarang ini hanya sesaat… dan akan hilang dengan sendirinya.”
“Sesaat? Tapi sampai kapan? Aku rasanya tidak akan kuat.”
“Yaaaa… sebulan dua bulan atau mungkin setahun, tidak akan melampau dua tahun.”
“Setahun? Ya ampun, itu bukan sesaat dalam beberapa hari ini saja aku rasanya ingin mati.” Tangisku belum bisa berhenti. “Sekali lagi aku katakan aku lelah dengan perasaan ini, benci meski ini rasanya indah namun aku tetap ingin mendapatkan perhatiaanya, aku tidak ingin kehilangan dia. Tadinya aku pikir ini hanya kekaguman atau perasaan sesaat tapi mengingat sosok pekerja kerasnya membuat aku benar-benar kagum dalam arti yang sesungguhnya.” Helaku yang masih ngotot menganggap kalau tidak ada yang salah pada diriku.
“Oke, aku tahu, Dan aku pernah berada dalam posisi kamu dan kamu pastinya masih ingat apa yang terjadi padaku, kan? Sekarang tidak ada yang istimewa semuanya hilang tak berbekas hingga ke hal terkecil sekalipun. Aku akan menunggu kabar darimu selanjutnya.”
Sahabatku mengakhiri pembicaraan itu dan aku tahu pasti ia pernah mengalami hal ini sebelumnya ia mengatakan bahwa itu kegilaan yang saat itu tidak bisa ia tepis karena perasaannya begitu kuat dan setelah mereka bertemu, tidak ada yang istimewa dan ia benar-benar bisa melupakan perasaannya dan merasakan itu sama sekali tidak penting. Apakah sesimpel itu?
Berkali-kali aku menghela napas panjang dan hari-hari berikutnya aku tidak pernah lagi membalas pesan masuk dari Biyan meski hanya sapaan menanyakan apakah aku baik-baik saja. Meski hati kecilku ingin sekali membalas pesan itu. Aku tidak ingin ia tahu bagaimana jungkirbaliknya aku coba menjadi diriku yang dulu sebelum kenal dengannya. Bukan aku ingin melupakannya hanya saja aku ingin meringankan beban hatiku yang masih terasa terhempas ke pelabuhan asmara yang bukan dermagaku. Dan jujur aku tetap ingin tahu kondisinya di sana hingga detik ini terasa terus menggelitik keinginanku untuk tahu apakah Biyan dan putri kecilnya baik-baik saja? Tuhan lindungi mereka, beri mereka kesehatan.
Entah selama ini ada yang kosong di hatiku hingga bisa masuk perasaan lain dan berhasil mengguncang ketenangan tidurku? Aku tidak ingin adik laki-lakiku tahu tentang semua ini apalagi sampai suamiku tahu walau aku tahu betapa posesive-nya dia. Taklama berselang si Mbah Kakung meninggal setelah seminggu dirawat di rumah sakit dan sebelumnya aku beberapa kali berkunjung untuk melihatnya di rumah sakit dan saat itu adalah pertemuan terakhirku dengan Mbah Kakung, aku besuk sebelum berangkat bekerja dan sempat pamit dan Mbah Kakung hanya menjawab meski tidak membuka matanya.
Si Biyan yang ada di luar kota di Timur Indonesia sempat pulang tapi aku tidak ingin bertemu denganya karena aku sedang menata hatiku, karena aku tidak yakin apakah aku sanggup bertemu dengannya atau aku akan berjuang lagi dari nol untuk menata hatiku. Masa bodohlah dengan kata-kata usang yang mengatakan ‘cinta tidak harus memiliki’ atau mungkin ‘puber kedua’ karena hanya aku yang bisa merasakan apa yang hatiku inginkan!
Di kamar tidurku yang sederhana aku merenung apa sesungguhnya yang aku cari di dunia ini? Uang? Keluarga? Cinta atau kepalsuan? Uang tanpa keluarga pasti akan terasa hampa meski keluarga tanpa uang akan susah dalam arti duniawi. Dinding kamarku seakan menjawab bahwa hidup tidak hanya di dunia. Jika aku meninggalkan keluarga demi kesenangan duniawi atau nafsu ingin memiliki baju baru maka aku hanya akan membawa kotak kosong kehadapan Tuhan, nanti. Seketika mataku beralih pada bingkai foto putra kecilku yang sedang tersenyum begitu manisnya, jagoan tampan yang sudah TK kecil itu seolah sedang menatap wajahku yang sendu, dan saat mataku beradu dengan mata indahnya hatiku berkata, dialah milikku yang lebih berharga dari apapun di dunia ini dan uang satu milyar bahkan puluhan milyar rasanya tidak bisa menggantikannya di hatiku. Perlahan aku beranjak dari tempatku dan menghampiri foto itu, dia anakku, Tuhan telah mempercayaiku untuk merawatnya, jadi apapun yang terjadi tidak ada alasan bagiku untuk meninggalkannya, tidak ada yang bisa aku lakukan sekarang selain berdoa semoga Tuhan membuka hati suamiku agar ia bisa lebih giat bekerja untuk kebutuhanku dan anak kami, bukan sekedar mencari hari ini untuk makan besok pagi, karena aku tahu ia punya tenaga yang lebih.
Semoga pikiran dan hatiku bisa berdamai dengan perasaan yang sedang melandaku, karena aku percaya bisa melewati semua ini karena orang-orang disekelilingku begitu menyayangiku meski detik ini ada rasa yang masih bergejolak.

@

Helda Toen Qeme

RANDU, RIMBA DAN LINTANG

 Randu, Rimba dan Lintang ** Dua remaja putri sedang berdiri di tangga pertama Tembok China, sebelum melangkahka...