MENGESANKAN
(Tentang Sebuah Rahasia)
**
BAB I
AL. Sadei
Gedung Gramedia dipenuhi pengunjung karena ada jumpa penulis novel remaja
di sana yaitu, AL. Sadei. Seorang wanita usia dua puluh tujuh tahun sedang
dikerubuti oleh para penggemar novelnya, agar novel yang mereka beli ditandatangi
oleh penulis kesayangan mereka. Setelah acara bedah buku sekalian peluncuran
perdana novel terbaru dengan judul ‘Rahasia Hati’ yang diterbitkan sebanyak
10.000 eksemplar untuk seluruh Indonesia.
Tidak kurang dari dua jam acara itu berlangsung, AL. Sadei hanya ditemani
oleh pihak penerbit yang tadi memberikan sedikit mukadimah tentang karya ke
tujuh yang ditulis AL. Sadei yang mereka
terbitkan. Sebelumnya AL. Sadei telah mengatakan kepada pengunjung bahwa novel
itu ia tulis dalam waktu dua bulan saja. Bagi penulis senior mungkin bisa
dibilang terlalu lama, tapi bagi AL. Sadei menulis novel itu termasuk singkat
karena ia bisa menulis novel dalam waktu tiga bulan bahkan lebih, ada juga bisa
selesai dalam satu bulan untuk ukuran 150-200 halaman. Tapi novel AL. Sadei
bisa sampai empat bahkan tujuh kali cetak ulang, namun sering juga hanya satu
kali cetak dalam satu judul.
Beberapa pengunjung mendapat hadiah novel karena berhasil menjawab beberapa
pertanyaan yang disediakan oleh panitia dari toko dan juga tanda tangan dari AL. Sadei sekaligus foto bersama.
Sebelum bubar AL. Sadei bicara kepada pimpinan redaksi penerbitnya seolah candaan saja.
“Mitha, dalam beberapa minggu ke depan aku ingin istirahat dulu.”
Wanita yang bernama Mitha itu melirik AL. Sadei dengan mimik lucu. “Kenapa,
mau semedi cari ilham? Hehehe… kamu ini ada-ada saja.”
“Ngapain cari ilham, ilham sih tidak usah dicari kalau sudah datang ia akan
datang sendiri seperti tamu tanpa diundang. Ya sudah, aku mau pulang, kamu
cepat sana… pacarmu sudah menunggu tuh.” Goda AL. Sadei.
AL. Sadei telah menyelesaikan sesi acara itu kini ia akan kembali ke tempat
kosnya di kawasan Cinere. Dari lantai tiga gedung Gramedia AL. Sadei sudah
mengenakan kacamatanya lalu turun melewati
lantai yang menjual berbagai merek
pakaian terkenal sebab toko Gramedia ada di dalam sebuah Mall besar. Beberapa wartawan On-Line
sudah menulis apa yang AL. Sadei bicarakan di acara tadi, dalam hitungan menit
artikel mereka akan muncul di dunia maya khusus untuk para manusia yang mencari
berita di dunia yang saat ini sudah melaju dengan pesat, dulu beberapa orang
memandangnya sebagai dunia sesat.
Wanita dengan celana jins sekaligus kaus lengan panjang itu sudah memasuki
area parkir motor yang ada di lantai satu. Sejenak ia mengecek ponsel yang ada
dikantong celana jinsnya tanpa mengeluarkan dari dalam kantong hanya untuk
memastikan ponselnya masih ada. Ia mengenakan jaket kulit dan terakhir memasang
helmnya tanpa bisa menutupi rambut panjang yang ia ikat seperti ekor kuda.
Melewati petugas parkir ia masih terlihat tenang dan merasa lega karena
acara bedah bukunya berjalan dengan lancar. Setelah melewati halaman gedung Mall ia merasa ada sesuatu menyapanya,
rasa rindu pada seseorang. Motor matic yang membawa tubuh semampai itu terlihat
berjalan dengan stabil dengan kecepatan biasa namun rasa kangennya seperti meluncur pada kecepatan diatas seratus meter perjam. AL. Sadei menarik napas
beberapa kali, rasa benci dan kangen sepertinya sedang berperang hebat di dalam
dadanya. Tas ransel tipis menempel di punggung meski isinya hanya sebuah laptop
dan beberapa surat seakan tidak terasa berat. Sebuah motor besar tiba-tiba
lewat di depan AL. Sadei dengan kecepatan tinggi untuk buru-buru berbelok ke
sebuah gang yang ada di kiri motor AL. Sadei, dan saat itu lampu sign belakang
motor besar itu menyentuh ban depan motor AL. Sadei bersamaan dengan
bergetarnya ponsel di dalam kantong celananya karena ada SMS masuk. Motor matic
itu terlempar tanpa bisa dikendalikan oleh pemiliknya sedang yang punya motor
besar itu sudah melesat meninggalkan korbannya tanpa ada satupun yang bisa
melihatnya dengan jelas. AL. Sadei jatuh sedang kepala yang terbungkus helm
membentur pembatas jalan dengan sangat keras. Beberapa orang berhenti melihat
kecelakaan itu dan sebuah mobil pik-up
yang ada dibelakang kerumunan orang menjadi sasaran untuk membawa AL. Sadei ke
rumah sakit terdekat. Sebelum diangkat ke atas pik-up orang-orang melepaskan helm yang masih membungkus kepala
wanita malang itu, tidak ada darah atau luka yang terlihat tapi wanita itu sama
sekali tidak sadarkan diri. Dua orang pria mengangkat tubuh AL. Sadei ke atas pik-up dan sekaligus ikut mengantar ke
rumah sakit.
Al.Sadei langsung dibawa ke ruang UGD, pihak rumah sakit mempertanyakan
siapa yang bertanggung jawab dan salah satu dari mereka menjelaskan untuk
segera ditangani dulu sebelum wanita itu meninggal. Ia mengatakan bahwa wanita
itu mengalami kecelakaan tertabrak di jalan takutnya akan mengalami gegar otak
dan meninggal. Mendengar kronologi itu seorang dokter tidak menunggu lagi dan
segera memerintahkan temannya untuk melaksanakan CT-scan. Tanpa memikirkan siapa nanti yang membayar pengobatannya.
Hal, semacam itu seringkali dialami pihak rumah sakit dan tak jarang dokter
yang mengiyakan kena SP dari pimpinan rumah sakit dan hal terburuknya bisa
dipecat atau menanggung segala biaya si pasien.
@
Best Friend
Pihak rumah sakit tidak tahu harus menghubungi siapa untuk menjaga pasien
yang baru saja mereka rawat dan periksa. Pasien itu mengalami gegar otak dan
pergelangan kaki kirinya patah, sedang kedua pria yang mengantarnya ke rumah
sakit sudah pulang setelah mengatakan mereka hanya mengantar saja bukan dari
pihak keluarga wanita itu. Pasien yang masih tidak sadarkan diri itu ditempatkan
di ruang intensive. Dokter yang menanganinya melihat ada ponsel di kantong jins
sebelah kiri pasien, tanpa berpikir panjang ia mengeluarkannya karena yakin ada
petunjuk di sana, meski mereka sudah memeriksa isi tas pasien tapi mereka tidak
menemukan petunjuk yang bisa dihubungi dengan cepat. Jam di dinding putih
ruangan intensive menunjukkan pukul 15.07 WIB.
Dokter itu sudah memegang ponsel dan mengamatinya sejenak lalu melirik
suster yang masih berdiri bingung di sebelahnya.
“Pasti ada sesuatu di sini.” Ujar sang dokter dengan nada pasti.
“Coba cek nomor kontaknya, Dok, cari nama penting seperti ‘ayah, ibu atau
kakak’ dari pasien.” Usul suster.
“Remaja sekarang jarang menulis nama seperti itu.” Kata dokter itu sambil
berusaha membuka ponsel itu dengan hati-hati. Beruntung ponsel itu tidak
memakai kata sandi. Dan pertama yang terlihat adalah pesan masuk dari nama yang
tertulis ‘Best Friend’
‘AemeL……’
Dokter itu tiba-tiba tersenyum. “Pesan kok hanya satu kata.” Lirihnya lalu
ia menatap pasien yang masih tidak sadarkan diri bahkan bisa dibilang koma.
“Pesan ini dikirim oleh best friend-nya, aku harus menghubunginya.” Dokter
memencet nomor itu tanpa menunggu reaksi dari susternya.
Julia sedang menatap layar ponselnya menyala memunculkan nama AemeL, sudah
lama sekali nama itu tidak nongol di LCD itu sehingga menimbulkan rasa
deg-degan yang tidak keruan di hatinya. Setelah membiarkannya beberapa detik
akhirnya Julia memutuskan untuk mengangkat dan rasa kagetnya bertambah setelah
mendengar suara seorang pria.
“Halo……….?”
“Ya. Halo..” jawab Julia dengan nada ragu-ragu.
“Maaf, siapapun nama Anda saya tidak peduli.. tapi ini sangat penting, saya
baru saja membuka ponsel seorang wanita ternyata ada SMS Anda masuk dan
bertuliskan dengan nama best friend, makanya saya menghubungi Anda. Kami, dan
khususnya saya telah membongkar tas pasien namun tidak satupun menemukan yang
bisa dihubungi selain di dompet ada SIM dan KTP atas nama Aemel Baes. Wanita
itu sekarang sedang berada di rumah sakit karena kecelakaan tabrak lari.”
“Apa?” suara Julia tercekat tidak percaya sekaligus cemas.
“Ini tidak main-main, kami di rumah sakit Harapan Indah menunggu kedatangan
Anda secepatnya.” Tegasnya dengan pasti.
“Baik, saya segera ke sana.” Jawab Julia dengan sangat cepat tanpa berpikir
lagi apakah telepon itu sebuah penipuan atau tidak mendengar nama AemeL
membuatnya tidak bisa berpikir lagi.
Tadinya ia berpikir tidak tahu harus bicara apa saat AemeL meneleponnya dan
apa yang AemeL katakan, karena ia sudah
rindu sekali dengan suara itu namun kabar yang ia terima diluar ekspektasinya.
Pihak rumah sakit mencatat nama pasien sesuai nama yang mereka lihat di
kartu identitas sekaligus menulis semua hasil lab serta sebab musabab kenapa
wanita itu sampai ke rumah sakit.
@
Julia Collection
Julia sedang sibuk membantu rekan kerjanya, wanita single 27 Tahun itu punya dua cabang toko pakaian di pasar dengan
sewa satu ruko lebih kurang dua puluh
dua juta pertahun. Ia menjalani bisnis itu dalam lima tahun belakangan,
sebelumnya bekerja di sebuah butik milik seorang pejabat daerah. Ada dua orang
pegawai di setiap satu toko, sedang Julia sendiri sering bolak-balik
Jakarta-Palembang untuk membeli isi tokonya belum lagi harus melayani penjualan
secara On-Line.
Hari itu setelah kembali dari toko yang satu tiba-tiba Julia ingat dengan
sahabatnya. Wanita itu tersenyum karena sebenarnya bukan hari itu saja ia ingat
dengan AemeL bahkan nyaris setiap hari tapi hari itu ia bukan saja ingat tapi
ada rasa kangen yang sepertinya tidak biasa. Julia menghela napas berat seolah
ingin meringankan beban rasa tiba-tiba menyesakkan dada, ia tidak pernah lagi
menelepon AemeL karena percuma sebab wanita itu tidak akan pernah mengangkat
telepon darinya, sekali-kali ia mengirim pesan jika ada hal penting sekali dan
itu jarang sekali dapat balasan, andaipun ada balasan tidak penting untuk
dibalas karena pesannya tidak minta dikonfirmasi. Tapi rasa itu akan perlahan
menghilang seiring kesibukannya membantu
anak buahnya melayani pembeli yang jarang sepi di tokonya. Sebuah ponsel selalu
menemaninya untuk bisnis On-Line yang
ia jalani dua tahun belakangan.
“Kak, ini ada WA dari pelanggan.
Katanya kiriman sudah sampai, barang yang datang juga sama persis dengan yang
ia pesan.” Pegawai sekitar usia dua puluh tiga tahun itu bicara pada Julia disambut
Julia dengan senyuman artinya pelanggannnya puas dengan pelayanan mereka. Ruko
yang tidak lebih besar dari lima kali lima meter itu berisi barang dengan mutu
bagus meski tidak terlalu memenuhi ruangan sehingga Julia bisa meletakkan
sebuah meja dengan dua kursi kecil di pojok bagian belakang ditambah sebuah
kipas angin kecil. Sebuah laptop ukuran 11 inch sedang terbuka di atas meja,
sekali-kali Julia asik menyimak layarnya untuk melihat perkembangan bisnis di
dunia internet. Ia sendiri telah mendaftarkan akun Julia Collection di sana.
Seema wanita yang sekaligus orang kepercayaan Julia mendekati bosnya. “Kak,
biasanya sebulan sekali sudah harus belanja ke Jakarta tapi kali ini baru masuk
minggu kedua toko ini sudah harus kembali diisi, apa kali ini pesan saja minta
dipaketin seperti bulan kemarin?” ia bertanya karena isi toko sudah harus
ditambah apalagi pesanam lewat On-Line
makin lancar.
Julia melirik Seema lalu berkata “Aku akan ke Jakarta kalau pesan rasanya
kurang puas untuk memilih.” Ia memastikan. “Oh, ya, Seema….” Julia berhenti
bicara seakan sedang memikirkan sesuatu sedang wanita itu menunggu Julia
meneruskan kata-katanya tapi Julia hanya menatapnya seolah lupa tadi ingin
bicara apa. “Mungkin aku ke Jakarta dalam dua hari ini dan selama aku pergi
kedua toko di Palembang ini adalah tanggung jawab kamu.” Katanya kemudian.
Tanpa dijelaskan Seema sebenarnya sudah tahu tanggung jawabnya termasuk
mengirimkan pesanan yang lewat internet.
“Oke, siap..” Seema tersenyum tanda setuju.
“Seema, baju kemeja dewasa ini harganya berapa ya? Aku lupa?” rekan kerja
Seema memperlihatkan sebuah kemeja lengan panjang karena ia sedang ditunggu dua
orang sepertinya pasangan kekasih yang berminat dengan kemeja itu.
“Seratus lima puluh ribu, bisa kurang kok.” Sahut Seema setelah melihat
jenis kemeja yang diperlihatkan temannya dan kalaupun bisa kurang tidak lebih
dari sepuluh ribu rupiah karena barang yang ada di toko Julia Collection sudah dikenal bermutu bagus jadi tidak ada yang
berani menawar rendah. Julia hanya mengamati mereka dari belakang mejanya lalu
kembali mengecek kiriman yang sudah terkirim di internet. Jasa pengiriman tak
jarang mengecewakan yang seharusnya sampai dalam waktu tiga atau empat hari
malah dua minggu baru sampai dan membuat si pengirim dan pemesan jadi sangat
kecewa dan anehnya tidak ada jaminan ganti rugi, yang ada si punya barang harus
mengirim ulang. Itulah dunia bisnis tidak selalu manis.
Setelah berkutat beberapa menit di dunia internet Julia meraih ponsel dan
membukanya, tidak ada status WA sahabatnya yang satu itu kecuali nomor ponsel
yang sudah ia simpan lebih dari tujuh tahun. Kembali ia menghela napas panjang
karena teringat lagi dengan wanita satu itu.
Di bagian depan atas ruko ada tulisan besar berbunyi ‘Julia Collection’
itulah satu-satunya usaha yang Julia jalani sekarang yang bisa menghidupi
dirinya sekaligus membayar empat orang karyawannya yang kesemua sudah ia anggap
keluarga sendiri. Bukan itu saja, selain itu ia masih bisa sedikit-sedikit
membantu keluarganya. Julia tidak memiliki rumah pribadi, ia tinggal di tempat
kos dengan satu kamar. Meski ada beberapa kakaknya menawarkan untuk tinggal di
rumah mereka tapi Julia memilih untuk tinggal sendiri dibanding tinggal di
rumah kakaknya yang kaya, punya pembantu dan segala macam. Julia tidak suka
mendengar gosip, tidak suka ikut arisan keluarga juga tidak suka pergi-pergi
yang tidak jelas. Ia punya banyak teman dari berbagai kalangan, tua ataupun
muda, pegawai bahkan kaki lima tapi kini ia hanya dekat dengan wanita yang satu
itu, wanita yang selama beberapa bulan ini mengganggu pikirannya. Wanita yang
ia anggap lebih dari keluarga sendiri, tidak ada lagi rahasia yang ia simpan
dari wanita itu. Semua sudah ia buka dengan sangat jelas, ibarat sebuah buku
tidak ada satupun halaman yang wanita itu lewati mengenai kisah hidupnya. Tapi
sekarang wanita itu sedang apa? Bagaimana perasaannya Julia tidak tahu. Ia
sungguh penasaran.
Tak jarang Julia meneteskan airmata mengingat persahabatan mereka yang
tidak biasa. Julia merasa takut kehilangan lantaran sudah banyak kehilangan di
dalam hidupnya apakah harus terpisah darinya sampai mati, rasanya tidak ada
yang lebih sakit dari tidak tahu kabar seorang sahabat yang sangat disayangi.
Hujan mulai turun dan dalam hitungan detik saja sudah sangat deras,
orang-orang yang berniat belanja jadi kalang kabut mencari tempat berteduh tak
terkecuali di depan teras Julia
Collection. Julia merasa hatinya beku dan saat itulah ia ingin menuliskan
pesan.
*
Tepat pukul 20.47 WIB Julia tiba di rumah sakit tempat AemeL Baes dirawat,
setelah turun dari taksi ia langsung menuju ruang informasi menanyakan apakah
benar AemeL Baes berada di tempat itu. Dengan tas punggung yang ditenteng,
rambut semi bob ala polwan, baju kaus serta celana jins dan tanpa polesan Make-Up ia coba bertanya.
“Maaf, Sus, saya ingin tanya, apakah ada pasien yang bernama AemeL Baes
dirawat di sini?” katanya pada wanita berseragam perawat, disebelahnya ada dua
orang lagi dan yang satunya seorang pria sedang melihat-lihat daftar pasien.
Perawat yang ditanya mengangkat wajahnya untuk menatap Julia sedangkan seorang
pria dengan pakaian dokter menatap Julia dengan tatapan campur aduk.
“Saya cek dulu.” Sahut perawat akhirnya dan langsung mengecek papan daftar
pasien yang ada di sebelahnya. Wanita yang menunggu begitu cemas jelas terlihat
dari ekspresi wajahnya.
“Anda, best friend??!” kata dokter sebelum suster menemukan nama yang
ditanyakan sang tamu atau orang yang bermaksud besuk sanak saudaranya.
Julia mengalihkan pandangannya kepada orang tersebut dan sebelum pria itu
terlalu jauh mengamati wajahnya Julia mengajukan pertanyaan.
“Anda mengenali saya?” katanya dengan nada rendah belum bisa menghilangkan
rasa cemas.
“Ikuti saya…” kata sang dokter dan suster yang melihat mereka sepertinya
menebak mereka sudah saling komunikasi lalu membiarkan wanita itu mengikuti
perintah sang dokter, tak biasanya dokter mau mengantar orang ke pasien mungkin
karena ia menangani pasien yang belum diketahui keluarganya.
Julia sudah berjalan bersisian dengan dokter muda itu dengan rasa was-was
yang luar biasa.
“Hampir enam jam, mengapa Anda begitu lama datang? Sahabat macam apa Anda
ini?” sergah sang dokter dengan nada tidak enak terdengar di telinga Julia.
“Semacet-macet kota ini tidak mungkin menjebak Anda selama itu di jalanan.”
Nadanya masih sama namun lebih mengandung amarah membuat Julia makin cemas.
“Bagaimana keadaan AemeL?” Julia ingin segera tahu kondisi sahabatnya tanpa
mempedulikan ocehan sang dokter dan ia merasa tidak perlu menjelaskan apa yang
telah ia lewati selama kurang lebih enam jam perjalanan sampai membawanya ke
tempat yang sama sekali tidak ia harapkan.
Dokter itu menghentikan langkahnya diikuti oleh Julia, kedua orang itu
saling tatap beberapa saat di lorong panjang teras rumah sakit.
“AemeL Baes masih tidak sadarkan diri hingga detik ini.” Kata dokter dengan
nada tenang namun tidak demikian dengan Julia.
“Apa maksud Anda? Dia koma?”
Dokter tidak mengangguk juga tidak menggeleng kecuali diam karena baru kali
ini ada orang menyebutnya ‘Anda’ bukan ‘dokter’ dan wanita yang kini ada di
depannya terlihat punya karakter tidak biasa. “Ayo…” ia kembali mengajak Julia
jalan. “Anda bukan saja kelihatan cemas tapi juga terlihat sangat lelah. “Aku
tidak menyebut AemeL koma, hanya saja belum sadarkan diri. Ia mengalami tabrak
lari.” Lanjutnya.
“Tabrak lari?”
“Ya, memangnya aneh? Ada ratusan kasus tabrak lari di ibukota ini setiap
harinya.” Mereka sudah tiba di ruang rawat intensive. “Ini, AemeL ada di dalam,
tunggu, biar saya panggil suster keluar dulu.” Dokter membuka pintu lalu
mengisyaratkan agar suster jaga keluar. Saat keluar suster melirik sekilas pada
Julia dengan tatapan penuh tanya.
“Apa dia si Best Friend, itu?” ujarnya membuat Julia bingung meski suster
jaga berbicara dengan dokter.
“Sepertinya, ya, semoga saja ia benar-benar Best Friend sehingga kita tidak
harus menunggunya selama enam jam.” Sindir dokter keras sengaja tertuju pada
Julia.
“Maaf,.. “ Julia merasa mulai tidak sabar langsung membuka pintu dan
menerobos masuk untuk segera melihat kondisi AemeL tanpa harus melayani dokter
dan suster itu untuk berdebat. Namun di depan pintu bagian dalam ia tertegun
takkala melihat sosok seorang wanita yang terbaring di tempat tidur pasien
dengan kondisi memprihatinkan. Alat bantu pernapasan terpasang di hidungnya.
Julia menutup mulutnya dengan telapak tangannya agar jeritannya tidak keluar,
saat itu pundaknya disentuh oleh tangan dengan lembut seakan coba
menguatkannya.
“Ia sudah menunggu kamu dari tadi, jika saja ia bisa berbicara maka ia
sudah marah sama kamu. Sekarang kamu boleh mendekatinya dengan catatan tidak
boleh berbuat macam-macam.” Sang dokter bicara karena merasa sudah yakin dialah
Best Friend itu namun ia tidak mau
pasiennya lebih parah.
Tas di bahu Julia sudah jatuh ke lantai kakinya mendekati AemeL sedangkan
dokter masih mengamati sosok itu, di matanya wanita itu terlihat sangat ideal
entah mengapa ia merasa akan menemukan banyak keunikan.
“AemeL…..” lirih Julia memanggil nama AemeL nyaris saja tidak bisa keluar
dari mulutnya namun yang dipanggil tetap
diam membisu seolah sedang tidur dengan nyenyaknya tanpa menyadari sahabatnya
datang dari luar kota telah berada disisinya. Julia semakin dekat dan dengan
gemetar tangannya coba menyentuh pipi AemeL. “Bangun AemeL…….” Lagi-lagi
suaranya terdengar lirih. Sang dokter masih tetap menyimak Julia tanpa bergerak
dari tempatnya semula berdiri. Lalu beberapa detik berikutnya terdengar suara
lembut dari mulut dokter yang sudah ada di sebelah Julia.
“Pergelangan kaki kirinya patah.”
“Apa..? Anda bilang kakinya patah?” Julia menoleh pada dokter dengan nada
suara diluar kendalinya.
“Pelankan suaramu.” Anjur dokter.
Julia merasa tidak kuat hingga berbalik dan bermaksud meninggalkan ruangan
itu namun buru-buru tangannya diraih
oleh dokter namun ia mendapatkan amarah dari Julia.
“Kenapa Anda menelepon saya jika hanya bermaksud menyampaikan berita
seperti ini? Apa salah AemeL dan saya? Apa tidak ada orang lain yang bisa Anda
hubungi? Katakan….. Anda pikir saya bisa
menghadapi kenyataan ini?” keluh Julia dengan mata berkaca-kaca.
“Ponsel AemeL mati, mungkin kehabisan batrey setelah saya menelepon kamu.
Apa kamu pikir hanya dia pasien di rumah sakit ini perlu perhatian? Ribuan
pasien di sini menunggu kesembuhan dan kehadiran orang-orang terdekatnya. Jika
kamu merasa dia benar-benar sahabatmu, hubungi keluarganya dan temani dia di
rumah sakit ini sebelum yang lain datang, oke..?! saya masih banyak urusan.”
Kali ini kata-kata dokter itu berubah lebih kasar. Setelah berkata ia keluar
dan meninggalkan ruangan AemeL dan Julia yang masih bingung, sedih dan tidak
tahu harus bagaimana. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain kembali mendekati
tempat AemeL dibaringkan.
Kali ini Julia benar-benar sudah menangis dihadapan AemeL yang masih tidak
sadarkan diri. “AemeL…. Katakan apa yang harus aku lakukan?” gumannya sambil
memegang tangan AemeL dengan erat. “Sudah beberapa bulan ini aku merindukan
suaramu, bicaralah Ae…, aku tidak bisa menghadapimu seperti ini, apakah ini hukuman
untukku? Bangun Ae…. Aku kangen.” Kini air mata Julia jatuh mengenai tangan
AemeL namun sosok itu tetap tidak bergeming.
Sejenak dokter masih menatap Julia dari sisi luar pintu sebelum benar-benar
pergi meninggalkan kedua wanita yang tidak ia kenal itu.
Julia tidak menghiraukan perutnya yang mulai berteriak minta diisi,
sepanjang perjalanan dari Palembang naik pesawat pukul 17.27 WIB dan tiba di
Bandara Soekarno-Hatta pukul 18.37 WIB. Perjalanan dari Bandara sampai rumah
sakit lebih kurang dua jam, dalam waktu nyaris enam jam ia sama sekali belum
menyentuh makanan. Kini dipikirannya ingin AemeL segera siuman dan bicara
padanya, harapan Julia memang terwujud AemeL sadar setelah pukul sepuluh malam.
Melihat kenyataan itu Julia tersenyum meski tak bisa menyembunyikan rasa duka
yang dalam melihat kondisi AemeL. Ia tidak peduli AemeL akan memarahinya, ia
rela.
“Ae…..?” panggil Julia dengan nada penuh rasa haru.
“Mmm.. ka..mu...” Suara AemeL masih terbata-bata lalu dengan pelan ia
melepas alat penutup hidungnya. “Kenapa saya di sini? Kamu…. Kamu siapa……..?”
“Apa………?” Julia langsung shock
karena AemeL tidak mengenalinya. “Ya, Tuhan……..”
AemeL tidak peduli dengan rasa kaget di wajah Julia karena kepalanya masih
terasa pusing dan ia kembali memejamkan matanya beberapa kali. Julia hanya bisa
menatap AemeL dengan pikiran tidak menentu sekaligus sedih melebihi tadi.
*
“Benturan di kepalanya menyebabkan ia lupa ingatan hingga mengalami
amnesia.” Jelas dokter yang merawat AemeL. Julia masih terdiam di depan meja
dokter tanpa bisa bicara apa-apa. “Sebaiknya kamu hubungi keluarganya.”
“Kapan ia bisa keluar dari rumah sakit ini?”
“Untuk saat ini belum bisa dipastikan.” Sahut dokter .
“Saya akan kembali ke ruangannya.” Hanya itu yang keluar dari mulut Julia.
AemeL terlihat tidur bukan pingsan lagi karena pengaruh obat. Itu kata dokter kepada
Julia. Mengetahui AemeL mengalami amnesia Julia mematikan ponselnya. Ia
memeriksa tas AemeL, sebuah laptop entah masih berfungsi dengan baik atau ikut
retak seperti isi otak AemeL karena kecelakaan itu. Sebuah ponsel dalam kondisi
mati dan dompet dengan isi uang tidak lebih dari lima ratus ribu rupiah dan dua
kartu ATM. Kedua kartu itu Julia mengetahui PIN-nya dengan baik. Bukan itu
saja, kata sandi Twitter, IG dan Facebook AemeL juga ia tahu karena
dikasih tahu sama AemeL waktu hubungan mereka masih baik, apakah AemeL
menggantinya atau tidak Julia tidak ingin mengetahuinya. Sekali lagi Julia
menatap sahabatnya yang sekarang bukan saja sakit dan patah tungkai kaki kiri
tapi mengalami lupa ingatan. Julia merasakan dadanya benar-benar sesak sehingga
susah sekali bernapas.
Seorang suster masuk untuk memberikan obat diikuti seorang wanita yang
bertugas menyediakan makan malam untuk pasien. Ia tidak peduli apakah nanti
makanan itu akan dimakan atau tidak yang penting ia sudah menyediakan sesuai
intruksi dari dokter yang merawat pasien.
“Selamat malam.” Sapa suster pada Julia yang duduk di samping AemeL. “Saya
akan memeriksa Pasien, Anda keluarganya?” ia melirik ke Julia sejenak.
“Ya, silahkan.” Sahut Julia dingin.
“Oh, ya. Anda diminta menemui bagian administrasi.” Kata suster menyampaikan
pesan dari bagian administrasi sembari mengecek kondisi AemeL.
“Tentu saja, tapi… apakah suster mau di sini sebentar saat saya keluar
menemui bagian administrasi?” pinta Julia karena tidak ingin meninggalkan AemeL
sendirian di ruangan itu.
~~~~~~
Bersambung......

Tidak ada komentar:
Posting Komentar